Slider

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Video Terbaru

Cerita Dewasa

Foto Dewasa

Cerita Dewasa ABG

Cerita Dewasa Selingkuh

Cerita Dewasa Tante

Video Dewasa

» » » » Cerita Dewasa Kutunjukkan Kemaluanku Pada Murid Lesku


Cerita Dewasa Kutunjukkan Kemaluanku Pada Murid Lesku - Aku punya murid les privat namanya Chika, maaf kalau ini nama beneran, Chika itu anak pertama dari dua bersaudara, aku tidak dekat-dekat amat sama keluarganya yang lain, tapi kalau sama si Chika itu sebulan juga kami sudah dekat seperti “kakak beradik”.

Dia nggak sungkan-sungkan menyandarkan badannya ke aku, bahkan kepalanya aku elus-elus juga dianya tidak keberatan. Pokoknya seperti kata novel itulah, “Lha wong sama kakaknya sendiri…” Aku pikir, aku sudah belai-belai rambutnya, sun pipi, apa lagi yah…,

kayaknya masih ada yang kurang gitu. Soalnya si Chika itu lagi mekar-mekarnya, ranum-ranumnya, tapi soal cowok ya mungkin baru aku sendiri yang dia kenal, belum pas gitu kalau belum aku kasih tahu (baca: lihat… hehehe… kejantananku).

Aku baru mikir-mikir bagaimana ngomonginnya. Aku diam-diam suka tegang kalau dia duduk dekatku. Ya terang saja dia nggak tahu hal begitu, tiap pagi habis bangun tidur sering ngebayangin gimana rasanya kalau kemaluanku dilihat sama Chika, ya sambil masturbasi sendirian.

Pucuk dicinta durian tiba, si Chika baru saja dapat pelajaran Biologi di sekolahnya. Tahu tidak pelajaran Biologi kelas 1 SMU, organ reproduksi manusia..! Akunya meledek, “Chika kamu menggambarnya (organ reproduksi pria) kok bagus banget, emang sudah pernah lihat yang benerannya?” Dia ketawa cekikChikan saja.

“Oh iya… SMU Chika tuh muridnya cewek semua…, nggak ada cowoknya hehehe…”, terus dia cerita kalau dulu pernah ada cowok masuk ke sekolahnya dia langsung ditelanjangin sama cewek-cewek, tentu saja waktu itu Chika-nya belum di sana.

“Ah Chika… kamu jadi bikin Kak Eko (namaku) penasaran saja…”
“Penasaran apa… emang Kak Eko mau ditelanjangin…?”
“Asal di depannya Chika saja…”

Dia ketawa cekikikan…

“Boleh nggak Kak Eko telanjang di depan Chika…”

Chika nggak menjawab, cuma cekikChikan saja, terus aku terusin, habis nggak tahan nih.

“Bolehkan yaa Kak Eko telanjang di depan Chika? …”
“Hihihi…”. Chika menjawab, “Ya entar pas ulang tahunnya Kak Eko saja…”

Aduh, aku nggak tahan benar deh…, pengen waktu itu juga aku keluarin burungku… tapi aku tahan-tahan juga. Itu kejadiannya Bulan Januari, padahal ulang tahunku bulan Februari, dari hari ke hari si Chika terus aku godain saja seperti “Ka…, entar Kak Eko telanjangnya (maksudnya di depan Chika) sampe Kak Eko ngeluarin hormon yaa…”.

Si Chika tuh tidak tahu apa itu sperma, apalagi istilah “orgasme” atau yang kayak gituan, makanya kubilang “hormon” gitu saja. Kalau sudah kugodain gitu paling-paling si Chikanya cuma “hihihihihi… ” saja. Kapan-kapan lagi saking tidak tahan kubilang… “Aduh Chika, Kak Eko sudah tidak tahan nih… sekarang saja ya Kak Eko telanjangnya…”. “Entar saja deh kalau pas ulang tahun… hihihi…”

Seminggu sebelum aku ulang tahun aku ngomong, “Eh Chika, kamu tinggal seminggu lagi deh bakal jadi cewek yang ngerti alat kelaminnya cowok…”, besoknya…, “Tinggal enam hari lagi kamu jadi cewek yang ngerti punyanya cowok…” seminggu itu rasanya jadi kaya seabad deh, akhirnya sambil terengah-engah tiba juga deh hari ulang tahunku.

“Aduh Chika…, sebentar lagi kamu bakal ngeliat alat kelaminnya Kak Eko deh… Kak Eko sudah nggak punya apa-apa lagi buat Kak Eko sembunyiin…” Eh tuh mukanya si Chika jadi merah padam gitu, maluu…, aku juga nervous banget tiduran di tempat tidurnya, dia sudah ketawa cekikChikan gitu…, aku pakai pakaiannya juga agar aku mudah terangsang gitu.., wahh…, nggak tahan deh kalau mesti lepas baju sama kaos oblong dulu, sehingga kuputuskan…, kukeluarkan saja deh alat kelaminku yang sudah meronta-ronta tidak karuan itu.

Aku lepas sabuk, kancing celana, aku turunin perlahan-lahan sampai tinggal celana dalam…, aduh…, nggak tahan banget, habisnya si Chikanya ketawanya semakin keras, mukanya semakin merah dan lucu apalagi matanya yang mungil itu. Jadi membelalak sambil muter-muterin bola matanya, aku usap-usap kemaluanku yang masih kebungkus celana dalam sampai besar banget seperti rudal Scud, tegak lurus siap-siap diluncurkan.

Terus celana dalamku aku turunin pelan-pelan, aduh nikmat banget…, nikmat…, nikmat… “Chikaa… ketawain terus dong…” teriakku, “… bentar lagi Chika ngeliat nih alat kelaminnya Kak Eko…”, sampai lepas deh celana dalamku keluar menantang alat kelaminku, batangnya tegak lurus dan… dan…

“Huahahaa…”, keras banget teriaknya si Chika, mukanya kocak banget, matanya membelalak, mulutnya kebuka lebar, lucu banget… hahh… Seumur-umur baru kali ini dia melihat alat kelamin pria dewasa, aaduh… belum pernah aku merasakan kenikmatan yang kaya gitu. “Chika… ini alat kelaminnya Kak Eko…” teriakku. Aduh… aku berusaha menunjukkan batang kelaminku ke mukanya, biar dia bisa melihat sebesar-besarnya sampai mengerti.

Aku kocok-kocokan alat kelaminku sendiri. “Chika seumur-umur baru sekali ini deh melihat alat kelamin cowok.. hahaha hihihi…” kepingkel-pingkel dan cekikikan jadi satu. Aku menggelinjang-gelinjang keenakan, menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.

Sepuluh menit kemudian aku nggak tahan lagi, “Aduh Kak Eko sudah nggak tahan lagi Chikaa…” teriakku sampai akhirnya… “Cruutt… cruutt… cruutt…” bagaChikan lahar merapi tumpah semua air kejantananku. “Oohh… aduh… nikmat… nikmat… ohh…”.

Si Chika masih cekikikan waktu aku selesai orgasme. Aduh… aku merasa “habis”, rada menyesal dan bersalah juga, aku melap kakiku yang ketumpahan mani dan aku bersihkan batang kelamin yang sudah rada lemas sampai bersih dan kering. Akhirnya kupakai lagi celanaku, kututupi alat kelaminku sebagaimana mestinya. Si Chika ketawa-ketawa kecil dan mukanya masih merah waktu semua itu “berakhir”.

Sudah deh… Chika sudah jadi cewek yang “mengerti” alat kelamin cowok, dalam hal ini alat kelaminku. Setelah cuci tangan kukasih sun manis di pipinya yang masih kemerahan menggeser ke depan sedikit yaa…, sedikit lagi…, sedikit lagi…, sampai bibirku tepat berada di ujung bibirnya, terus dia menundukan kepalanya, artinya tidak boleh aku lanjutkan.


Ya sudah nggak apa-apa. Aku juga sudah puas banget kok ngeliatin alat kelaminku sampai kamu “mengerti”, kataku dalam hati.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama